烛光

你 现 在 好 吗  今 天 快 乐 吗

我 从 远 方 送 你 的 花
你 收 到 了 吗
分 手 以 后 的 雨 季

断 断 续 续 下 不 停
没 有 你 的 日 子 真 的 不 容 易

躲 不 开 回 忆  最 难 忘 记 你
再 说 什 么 也 无 法 压 抑
汹 涌 的 情 绪

我 已 学 会 珍 惜

再  给  我 一 次 勇 气
好 想 告 诉 你  我 的 爱
一 直 留 在 你 那 里

***

三 百 六 十 五 支 烛  光

亮 在 我 心 上

每 一 天 一 支 烛 光 照 的 我 的 心 慌

我 只 想 拥 有 凡 人 的 欲 望

唯 有 你 是 我 的 阳 光

唯 有 你 能 让 我 的 天 空 晴 朗

三 百 六 十 五 支 烛 光

亮 在 我 心 上

每 一 天 一 支 烛 光 都 是 相 同 的 愿 望

你 的 爱 是 我 期 待 的 天 堂

祝 你 天 天 年 年 快 乐

也 祝 福 我 们 地 久 天 长

算什麼男人

亲  吻 你  的 手  还 靠 着 你 的 头

让 你 躺 胸 口  那 个 人 已 不 是 我

这 些 平 常 的 举 动 现 在 叫 做 难 过

喔 ~  难 过

 

 

日 子 开 始 过 我 没 你 照 样 过

不 会 很 难 受  我 会 默 默 的 接 受

反 正 在 一 起 时 你 我 都 有 开 心  过

就 足 够

 

我 的 温 暖 你 的 冷 漠 让 爱 起 雾 了

如 果 爱 心 画 在 起 雾 的 窗 是 模 糊

还 是 更 清 楚

 

你 算 什 麽 男人    算 什 麽 男 人

眼 睁 睁 看 她 走 却 不 闻 不 问

是 有 多 天 真  就 别 再 硬 撑

期 待 你 挽 回 你 却 拱 手 让 人

 

 

你 算 什 麽 男 人   算 什 麽 男 人

还 爱 着 她 却 不 敢 叫 她 再 等

没 差  你 再 继 续 认 份

她 会 遇 到 更 好 的 男 人

Revisi PSAK 4: Laporan Keuangan Tersendiri (1 Jan 2015)

Pada 19 Desember 2013, Dewan Standar Akuntansi Keuangan IAI telah melakukan revisi PSAK 4: Laporan Keuangan Tersendiri yang berlaku untuk tahun buku yang dimulai pada atau setelah 1 Januari 2015. Sebelum revisi ini disahkan, PSAK 4 mengatur Laporan Keuangan Konsolidasian dan Laporan Keuangan Tersendiri. Setelah direvisi, standar ini hanya mengatur laporan keuangan tersendiri.

Apakah dampak perubahan PSAK 4 pada laporan keuangan tersendiri?

Tidak ada dampak signifikan dari perubahan PSAK 4, khusus untuk laporan keuangan tersendiri. Laporan keuangan tersendiri harus disusun sesuai dengan SAK yang berlaku. Laporan keuangan tersendiri minimal terdiri dari laporan posisi keuangan, laporan laba rugi komprehensif dan pendapatan lain, laporan perubahan ekuitas, dan laporan arus kas.

Apakah laporan keuangan tersendiri?

Laporan keuangan tersendiri bahasa sederhananya adalah laporan keuangan induk saja (parent only), tidak dikonsolidasikan dengan anak. Karena entitas anak tidak dikonsolidasi, maka investasi pada anaknya, asosiasi, dan ventura bersama (joint venture) dicatat berdasarkan nilai perolehan atau sesuai dengan PSAK 55: Instrumen Keuangan : Pengakuan & Pengukuran.

Apakah PSAK mewajibkan setiap perusahaan induk menyusun laporan keuangan tersendiri?

PSAK 4 tidak mewajibkan perusahaan induk untuk menyajikan laporan keuangan tersendiri. Laporan keuangan tersendiri hanya dapat disajikan sebagai tambahan informasi dalam laporan konsolidasian.

Jika tidak wajib, mengapa informasi ini disajikan?

Menurut pendapat pribadi saya, ada beberapa alasan mengapa perusahaan menyajikan laporan keuangan tersendiri. Alasan utama adalah untuk mengukur kinerja perusahaan induknya saja. Karena tidak dikonsolidasi, maka akan jelas tercermin berapa laba dan kas operasi yang dihasilkan perusahaan induk misalnya. Selain itu, laporan keuangan tersendiri juga dapat menunjukkan seberapa besar dampak konsolidasi bagi keuangan perusahaan, sehingga berguna bagi pengambil keputusan dalam membuat keputusan strategis perusahaan ke depan.

Tulisan ini merupakan pendapat pribadi dan tidak dapat digunakan sebagai rujukan hukum. Jika ada pertanyaan, saran, atau pendapat: alfri_n@yahoo.com

Seminar Internasional IFRS

Pada tanggal 10-11 Desember 2014, Ikatan Akuntan Indonesia akan mengadakan seminar IFRS terbesar di Indonesia yang menghadirkan pakar akuntansi ternama dari luar (IASB) dan dalam negeri. Seminar ini akan membahas proses penyusunan Standar Akuntansi Keuangan dan juga isu-isu terhangat perkembangan akuntansi seperti Standar Akuntansi Perkebunan, serta isu penerapan akuntansi nilai wajar (PSAK 68) pada laporan keuangan.

Selain itu, seminar ini juga memberikan pemaparan IFRS update, dan Standar Akuntansi Keuangan yang akan berlaku efektif 1 Januari 2015.

Rabu, 10 Desember 2014  : IFRS Update & IFRS Implementation Issues

1. Diskusi Panel Sesi 1, Peran Pemangku Kepentingan dalam Proses Penyusunan Standar),

Penyusunan standar akuntansi tidak hanya dipengaruhi faktor teknis akuntansi saja, namun juga terdapat unsur-unsur politis yang berperan besar dalam pengambilan keputusan. Bagaimanakah proses penyusunan Standar Akuntansi Keuangan di dunia internasional dan di Indonesia? Bagaimana menjadi agen perubahan akuntansi di Indonesia dan di tingkat internasional?

Isu ini akan dibahas oleh Ketua DSAK IAI, Ketua MASB

2. Diskusi Panel Sesi 2, Perkembangan Terbaru Standar Akuntansi Perkebunan, (IAS 41: Agriculture),

Malaysia, negara yang memiliki banyak perusahaan perkebunan kini sudah mengadopsi IAS 41: Agriculture, yang sarat dengan penggunaan nilai wajar pada asset biolojik. Sudah siapkah Indonesia Menggunakan Nilai Wajar pada Perusahaan Perkebunan sesuai IAS 41: Agriculture?

Isu ini akan dibahas oleh DSAK IAI, Ketua MASB, Anggota IASB, Perwakilan Perusahaan Perkebunan

3. Diskusi Panel Sesi 3, Isu Akuntansi Menara Telekomunikasi (PSAK 16: Aset Tetap, PSAK 13: Properti Investasi)

Di Indonesia terdapat perbedaan penerapan akuntansi pada perusahaan menara telekomunikasi, dalam mencatat menara telekomunikasi yang mereka miliki. Beberapa perusahaan tersebut mencatatnya sebagai aset tetap (PSAK 16), sedangkan beberapa lainnya mencatat sebagai property investasi (PSAK 13).

Isu ini akan dibahas oleh DSAK IAI, Ketua IFRS Interpretation Committee, Perwakilan Standard Setter Asing, Perwakilan Perusahaan Telekomunikasi.

Kamis, 11 Desember 2014 : PSAK Update

1. Diskusi Panel Sesi 1, Perkembangan Akuntansi Nilai Wajar (PSAK 68: Pengukuran Nilai Wajar)

PSAK 68 yang akan berlaku efektif 1 Januari 2015 kini menggunakan konsep pengukuran nilai wajar berbasis pasar. Bagaimanakah penerapannya dan apa sajakah yang harus disiapkan perusahaan dan jasa penilai dalam mengukur nilai wajar sesuai PSAK 68?

Isu ini akan dibahas oleh DSAK IAI, Tim Implementasi SAK IAI, dan MAPPI

2. Sesi Pemaparan 1, Akuntansi Imbalan Kerja dan Pajak Penghasilan, (PSAK 24: Imbalan Kerja, PSAK 46: Pajak Penghasilan)

PSAK 24 yang akan berlaku efektif 1 Januari 2015 kini tidak memperkenankan pendekatan koridor. PSAK 46 kini tidak mengatur pajak penghasilan final. Bagaimanakah dampak perubahan PSAK tersebut pada laporan keuangan?

Materi ini dipaparkan oleh TI SAK IAI, DSAK IAI

3. Sesi Pemaparan 2, Akuntansi Konsolidasi, (PSAK 4: Laporan Keuangan Tersendiri, PSAK 15: Investasi Pada Entitas Asosiasi, PSAK 65: Laporan Keuangan Konsolidasian, PSAK 66: Pengaturan Bersama, dan PSAK 67: Pengungkapan Kepentingan dalam Entitas Lain)

Pemberian definisi pengendalian dalam PSAK 65 untuk dapat mengatasi masalah inkonsistensi model konsolidasi dalam PSAK 4 dengan ISAK 27 sebelumnya. Bagaimanakah dampak pada laporan keuangan konsolidasian perusahaan?

Materi ini dipaparkan oleh TI SAK IAI, DSAK IAI

Sumber: http://www.iaiglobal.or.id/v02/berita/detail.php?catid=&id=749

Ringkasan PSAK 68: Pengukuran Nilai Wajar

Snapshot

Pada tanggal 19 Desember 2013, Dewan Standar Akuntansi Indonesia telah mengesahkan PSAK 68: Pengukuran Nilai Wajar yang diadopsi dari IFRS 13: Financial Instruments per efektif 1 Januari 2013. PSAK 68 ini berlaku untuk periode tahun buku yang dimulai pada atau setelah 1 Januari 2015, dan berlaku prospektif.

Menurut saya, standar ini lebih tepatnya seperti juru pamungkas untuk nilai wajar. Jadi, transaksi yang diwajibkan atau diperkenankan oleh PSAK menggunakan nilai wajar, harus mengacu pada PSAK 68 ini, kecuali untuk beberapa item yang dikecualikan pada ruang lingkup PSAK 68.

Dampak pada perusahaan

Secara umum, apabila diterbitkannya suatu peraturan, maka yang terkena imbasnya adalah proses bisnis, sumber daya manusia, dan sistem (termasuk IT). Tulisan ini tidak membahas lebih lanjut mengendai dampak PSAK 68 ke tiga hal tersebut. Perusahaan dapat melakukan konsultasi lebih lanjut dengan para konsultan untuk mengidentifikasi perubahan ini pada tiga hal penting di atas.

Pada dasarnya, standar ini mengatur bagaimana mengukur nilai wajar atas suatu transaksi, terutama yang terkait aset dan liabilitas. Dampak utama dari berlakunya standar ini adalah, perusahaan harus berhati-hati dalam melakukan pengukuran nilai wajar sesuai dengan hirarki nilai wajar yang ditentukan standar ini. Para akuntan harus memastikan bahwa penilai menggunakan konsep pengukuran nilai wajar yang sesuai dengan PSAK 68. Hal ini karena IFRS 13 sendiri (standar yang diadopsi oleh PSAK 68) dan IVS (International Valuation Standard) memiliki terminologi yang berbeda terkait nilai wajar. Meskipun IASB mengklaim bahwa sesungguhnya pengertian dan pengukuran nilai wajar antara IFRS dan IVS serupa, namun perbedaan terminologi yang ada dapat menimbulkan perbedaan persepsi yang signifikan di lapangan bagi para penilai. Tentu saja apabila penilai melakukan pengukuran nilai wajar tidak sesuai dengan PSAK maka hasil penilaian tersebut tidak dapat digunakan di laporan keuangan. Akibatnya,  auditor tidak dapat memberikan clean opinion (opini WTP) atas hasil penilai tersebut apabila nilainya material dan berdampak signifikan bagi laporan keuangan.

Selain itu, PSAK 68 mewajibkan adanya tambahan disclosure bagi para entitas yang menggunakan hirarki nilai wajar level 3. Sehingga, para pelaku industri tidak bisa semerta-merta mencari kemudahan langsung menggunakan hirarki level 3.

Persiapan yang Harus Dilakukan

Meskipun standar ini baru berlaku pada 2015, perusahaan dianjurkan untuk bersiap diri menghadapi gelombang IFRS 13 atau PSAK 68 ini. Persiapan yang dilakukan setidaknya mencakup:

– Sosialisasi mengenai PSAK 68 ke seluruh akuntan, termasuk BOD perusahaan

– Analisa dampak penerapan PSAK 68 ke proses bisnis, sumber daya manusia (HRD), dan sistem, termasuk analisa SWOT perusahaan dalam penerapan PSAK 68

– Membuat road map, termasuk daftar tugas yang harus dilaksanakan, person in charge (penanggung jawab pelaksana)  untuk penerapan PSAK 68 ini.

Informasi Lebih Lanjut

Informasi mengenai PSAK 68 ini dapat Anda tanyakan kepada konsultan atau auditor Anda. Namun, saya tidak menutup kemungkinan untuk diskusi lebih lanjut mengenai hal ini. Silahkan kirimkan pertanyaan Anda ke alfri_n@yahoo.com 

Berikut ini adalah summary PSAK 68 Pengukuran Nilai Wajar

Fraud: Do we have to search it?

As an external auditor, do we have to or oblige to find any misstatement caused by fraud or any fraud attempt that may exist in the company we audit?

According to Indonesian Auditing Standard (SPAP), auditor must aware any risk of material misstatement due to fraud. The word “material” saves us. It shows that we don’t have to search for fraud at any amount, and limit to material amount only. One of the procedures we have to do is having a discussion at planning stage with management relating to any fraud risk that might have occurred, and document it.

Missing Supporting Document

Just read the CFE (Certified Fraud Examiner) Magazine.

Missing sup doc is a red flag. When we take sampling and found that some transactions are not supported with documents, we cannot forget it and drive on (FIDO). We have to question why the sup doc is not available.

Common reasons answered why the sup doc is not there:

  • It was approved by director’/owner directly.
  • It was director/owner’s personal expense.
  • It was kept by accounting personnel who have resigned.
  • It was moved by someone else whom we don’t know.
  • The filing is messy and scattered. Maybe it is kept somewhere else.
  • We forget where we put it.

The substitution of sampling with other transactions with similar account  but have sup. doc should be questioned with professional skeptiscm.

Reasons Why Auditor Cannot Detect Financial Statement Fraud

  1. Scope Limitation, this include prohibition in doing corroborative inquiry, limitation  of access to required data
  2. Auditor lack of professional skeptism
  3. Auditor may choose the wrong sample
  4. Auditor is having lack of accounting knowledge
  5. Auditor is having lack of experience
  6. Lack of audit trail
  7. The evidence is seemed to be true (falsified evidence)

if u need further explanation, please email me alfri_n at yahoo.com

Type of Fraud (Fraud Tree)

Before you want to know how-to-detect fraud, you have to start questioning yourself : what type of fraud you want to detect? Because there are numerous type of fraud. Bologna classifies fraud into three categories: corruption, asset misappropriation, and financial statement fraud. So what’s the most crucial in you?

Corruption types of fraud includes corruption, bribery, and getting commission/bonus into personal account from vendor resulted from purchasing activity.
For government corruption investigator like KPK in Indonesia, the most important thing for them is to detect the corruption fraud. Off course, not every corruption frauds in government bodies are detected and investigated by them (KPK), but only the material amount that will be detected (above 1 billion rupiahs/$100,000 USD according to Mr. Najib Wahito, government corruption investigator).

Asset misappropriation is usually done by small-theft. The amount usually immaterial. Most of time external auditors ignore this because of the materiality consideration. But auditors must look at it in aggregate amount. Sales person employee who steals money let’s say $20 per day (occurs on daily basis) could be material for a company with sales $2000/year. Usually this type of fraud caught by tipping, less are  caught by internal auditor.

Financial statement fraud is usually done by CFO, CEO, or C-level employees. They try to cook the book for various reasons: getting bonus for great financial performance, or avoiding tax in illegal way. This type of fraud is systematic, because each transaction journal entry is linked with other journal entry. One hole in transaction can cause another hole in other transaction that may attract auditor’s attention. Since it is high-level type of fraud, sometimes internal auditor themselves are not allowed to get access to examine it. The misstatement that resulted from financial statement fraud is usually big.

According to SAS 99, external auditor is responsible to plan and conduct audit to obtain reasonable assurance that the financial statement is free from material misstatement that caused by error or fraud. So, auditor has responsibility to detect fraud that may cause material misstatement. So if it’s not material, external auditor sometimes just ignore it.
But for the company, fraud, even though it is immaterial, it may cause loss to the company may degrade company’s reputation in the eyes of vendors, other third party, and its own employees.

The tone of the top is the most important thing to reduce fraud. Internal auditor cannot fight fraud alone if the the top level management focuses on sales operation and ignore internal control. Management, the C-level people, must build effective good corporate governance and internal control. And it requires hard work to wake them up, alert them of the importance of internal control.